Minggu, 01 Mei 2011

tegarlaah agnes ! :')

Nirwan keluar kelas dan pergi ke kantin di kampusnya. Tas peralatan lukisannya selalu ia bawa tiap kali berpergian, siapa tahu dapat inspirasi dari mana pun atau siapapun. Tiap kali bel istirahat berbunyi, koridor sekolah pasti penuh dengan para mahasiswa mahasiswi yang entah ke halaman sekolah atau sarapan. Nirwan berpas-pasan dengan Aris, teman berandalannya di halaman sekolah yang seperti taman luas. “Woi, Aris!” Mereka berdua melakukan tangan tos, sudah berlaku sejak SMP. Nirwan mengerti ketidak mampuan Aris, nilai kelulusannya sangat pas-pasan. Aris lebih menyukai kebebasan alam, daripada sibuk hal-hal yang tidak disukainya. “Biasalah, papa maksa ikut ke perusahaan. Observasi segala macam deh, eh... sekarang, aku lagi kabur.” Aris terlihat tidak cocok dengan pakaian formal, kayak orang kantoran. Nirwan tahu itu bukan gaya Aris, lainkan paksaan dari papanya. “Gila banget pakai kabur... mending ikut aku di sini. Siapa tahu, ada cewek yang mau lukis kamu.” Aris menutup mulut sambil terkikik. “Jelas-jelas, gak ada yang mau sama tampang ini. Berandalan, terus bengis. Gak ada seninya.” Nirwan menyeret badan Aris ke kantin, dia butuh teman ngobrol. “Gak usah alasan. Kebetulan, aku butuh bantuanmu.” Aris nyerngit, tidak biasanya teman satu ini minta bantuan. Biasanya, kebalikan.
***
Nirwan menunjuk-nunjuk seorang cewek yang sibuk ngaduk jusnya sambil ngobrol para cewek di meja kantin. Aris langsung tahu maksud bantuan yang dibutuhkan oleh Nirwan. “Oh, jadi kamu mau deketin tuh cewek....” Nirwan ngangguk kepala dan matanya segera tertuju ke cewek itu. “Siapa namanya?” Aris melipat kedua tangan dengan tampang sok pingin tahu. “Namanya Agnes.” Aris menghampiri cewek bernama Agnes. “Ini kecil banget! Sedikit rayuan gombal, nanti dia bakal tersipu-sipu!” Teriakan Aris ke dalam pikirannya, buat dirinya senang. Kepercayaan diri Aris sangat tinggi, dengan entengnya dia tersenyum pada Agnes setelah getok meja pelan.
“Hai, Agnes...” Nada Aris sangat merdu dan menggoda. Agnes meliriknya dan tidak merespon. “Gimana kau tahu namaku?” Agnes terlihat terganggu dengan kehadiran Aris, wajahnya judes! Aris tidak melihat itu. “Aku tahu namamu dari Tuhan... hanya nama itu yang kuingat dari tidurku.” Para cewek jekikikan, gombal nih cowok! Agnes tidak menanggapinya serius. Matanya tajam, tertuju ke Aris. “Kalau mau merayuku, jangan pakai nama Tuhan deh! Nanti kualat!” Agnes pergi dengan wajah cemberut, ke suatu tempat. Nirwan terkaget-kaget dengan kekalahan Aris kali ini kalau merayu cewek. Para cewek pada ngejek Aris, kalau gombalnya kuno banget! Julukan Aris sebagai perayu cewek saat SMA terlepas.
***
“Tuh cewek judes banget! Gak ada manis-manisnya!” Gerutu Aris terus menurus terlontar dari mulutnya, saking malunya pada kejadian itu. Nirwan ngajak makan es campur di restoran langganannya. Aris tidak percaya ada cewek judes, semacam Agnes yang baru saja ia lihat. “Mending jangan dia, bakal mampus kamu! Rayuan mautku gak ada efeknya!” Nirwan ketawa sambil makan tape, lucu juga melihat muka Aris yang mematung. “Kamunya sih... terlalu percaya diri. Dimana-mana, tipe cewek itu beraneka ragam. Gak semuanya bisa klepek-klepek sama rayuan gombalmu!” Raut wajah Aris tidak berubah, cemberut sekaligus sebel. “Gimana ceritanya, kamu mau dekat sama tuh cewek? Dia kan judes...”
Wajah Nirwan terlihat super ceria, berhenti ngaduk es campur. “Jaman sekarang, gak ada cewek kayak dia. Dia itu pendirian, gak manja... apalagi... dia pernah baik banget waktu kuasku ketinggalan dan dia pinjamin aku kuasnya. According to my classmate...” Aris mencari sisi baik dari Agnes, tapi dahinya berkerut. Nirwan lanjutkan penjelasannya. “Juteknya emang sering keliatan, tapi over all-nya... dia baik dan ramah. Percaya deh sama aku!” Aris masih dengan pendiriannya. Selesai makan es campur, mereka berdua pisah jalan. Aris akan berurusan dengan papanya pasca berita kabur dirinya. Nirwan masuk ke dalam mobil dan pergi ke rumah untuk lanjutkan lukisannya.
***
Nirwan diam-diam potret wajah Agnes dari kejauhan saat beberapa hari pasca hari pertama masuk kuliah. Baru-baru ini, dia mencoba untuk melukis setidaknya wajah Agnes yang putih dan hangat dengan senyumnya. Itu selalu dilakukan saat tengah malam di ruang kerja papanya, mamanya sudah dipastikan tidur pada jam begini. Papa Nirwan sudah dipanggil oleh Tuhan saat kerja di Paris untuk pameran lukisan-lukisannya. Mamanya dengan berat hati harus menjual semua lukisan demi usaha baru dan biaya kuliah putranya. Usaha restoran keluarga Nirwan cukup terkenal dengan restoran Amerika, Jepang dan Indonesia. Tidak heran kalau di sana beberapa orang bule masuk ke restoran tersebut.
Tanpa disangka, mama Nirwan membuka pintu ruangan kerja suaminya . Nirwan kaget melihatnya, tangannya terhenti dari gerakan di atas kertas HVS-nya. “Mama... kok belum tidur?” Beliau hanya mandang posisi Nirwan sedang duduk di bangku kerja papa Nirwan. “Mama gak tahu kenapa... barusan tiba-tiba keingat sama papamu.” Nirwan tersenyum kecil begitu memutar bangku kesayangan papanya. Dia sungguh kesepian, tidak ada sosok papa yang biasanya sering diajak bicara soal apa saja kalau ada luang waktu. Mamanya berjalan pelan, melihat seluruh detail ruangan kerja ini. “Nirwan... kamu menyukai tempat ini ya?”
Badan Nirwan merinding seketika, berpikir dirinya diinterogasi. Jangan-jangan, dirinya tidak diperbolehkan untuk masuk ke sini?! Dia berdiri dengan kaku, seluruh mukanya berkerut dengan sedikit tawa. “Emang… gak boleh ya… aku pakai ruangan ini? Kalau gitu, aku pindah ya…” Nirwan bergegas ambil kertas dan peralatan lukisan dan hampir keluar ruangan kalau mamanya tidak berpaling dan berkata. “Hei… siapa bilang kamu gak boleh di sini? Ayo… di sini.” Nirwan bingung, berdiri di depan pintu. Dia kembali meletakkan kertas dan peralatan lukisannya di meja. Mamanya keluar ruangan setelah menghimbau Nirwan untuk tidak tidur terlalu malam dan istirahat yang cukup.
***
Karena rayuan Aris tidak berguna, Nirwan hanya berdiam diri. Agnes selalu ada di mana-mana tiap kali Nirwan berada di koridor atau sekedar minum di kantin. Kalau bukan ngobrol sama para cewek, Agnes hanya duduk sendirian di kelas, sambil baca majalah. Nirwan tidak punya keberanian untuk mendekatinya, nanti dikira ganggu. Suatu hari, Nirwan sengaja berkunjung ke restoran mamanya. Dengan pesan minum coca cola float, pikirannya sedikit segar. Matanya iseng-iseng melirik ke pintu depan, sambil dengar lagu di iPod. Beberapa cewek datang dengan wajah ceria. Itu tidak menarik bagi Nirwan, sampai… sosok Agnes muncul dari balik pintu. Hanya keringat dingin, yang dirasakan oleh Nirwan sepuluh menit setelah cewek pujaannya berkunjung ke restoran ini. Dia terlihat senang dan bahagia, asyik dengan obrolan teman. Agnes sedikit jahil, dengan masukkin kebanyakan saus sambal ke dalam sup salah satu temannya. Nirwan menilainya sempurna, tidak ada sececar cacat. Bukankah tidak ada manusia sempurna di dunia ini? Melainkan beraneka ragam kehidupan yang dikasih oleh Tuhan? Nirwan berdiri dari bangku dan berniat untuk pergi ke toilet. Tanpa sengaja, dia menabrak Agnes yang saat itu berdiri untuk ambil tisu. Agnes terlihat marah, siap menyembur lontar-lontaran jelek untuknya.
“Hei, jalan pakai mata dong!” Agnes segera memarahi Nirwan begitu berdiri dari posisi jatuhnya. Nirwan tidak bisa melawannya. Tahu dirinya yang buat dia jatuh. “Maaf banget ya… gak disengaja kok. Suwer!” Wajah Nirwan menggambarkan ketakutannya sambil bentuk V dari kedua jarinya. Agnes tidak menanggapi permintaan maafnya. “Bilang saja, kamu itu sengaja nabrakin aku! Dasar cowok gak tahu diri!” Harga diri Nirwan hancur, berpikir Aris benar. Nih cewek hanya ada judes, tidak ada manis-manisnya! “Kalau anda ke sini cuma pingin marah-marah, mending keluar! Ini tempat umum!” Kepala Agnes tergeleng-geleng, matanya terbuka lebar. Tidak percaya diusir sama cowok asing seperti dia.
“Emang kamu punya hak untuk ngusir aku dari sini?!” Volume Agnes sudah terdengar dari seluruh sudut restoran tersebut, sampai semua sorotan mata tertuju pada mereka. “Kamu gak tahu ya? Kalau aku ini anak pemilik restoran ini?” Keberanian Agnes menciut, memaki dirinya. Kenapa tidak terpikir olehnya bahwa nih cowok anak pemilik restoran?! Nirwan tiba-tiba ketawa, Agnes bingung. “Apa sih yang lucu?!” Tawa dari Nirwan terhenti sesaat dan kembali duduk di bangkunya. “Ternyata, kamu itu gampang banget kepancing.” Agnes ingin mengakhiri ketidak jelasan soal identitas cowok ini. “Kamu itu siapa sih?”
Nirwan menunjuk dirinya dengan jari telunjuk. “Ini aku… Nirwan? Sesama kelas terus… pernah minjamin aku kuas?” Agnes meletakkan jari telunjuk ke dahinya, berpikir lebih keras. Dia baru ingat, dirinya pernah minjamin kuas pada seseorang. “Ayo, Nes... kita pergi saja yuk. Gak usah mikirin tuh cowok. Dia itu belagu banget. Ngaku anak pemilik segala...” Agnes ditarik oleh temannya yang terlanjur tidak suka sama Nirwan. Nirwan hanya tarik nafas, menganggap ini pertemuan pertama yang menjengkelkan. Kenapa harus pakai pura-pura marah segala untuk dapat perhatian Agnes?
***
Aris ngajak Nirwan untuk main biliard di dalam sebuah mall. Nirwan lagi tidak mood untuk main yang selalu melatih mata dan konsentrasi. Aris malah asyik main sendirian, ditambah minum coca cola kaleng. Nirwan akhirnya cerita kejadian di restoran mamanya. Aris beransumsi untuk tidak berbuat sembrono. “Coba deh... lakuin hal-hal biasa. Seperti ngobrol santai entah di mana itu. Mungkin, itu bisa bikin Agnes suka sama kamu.” Nirwan tidak terlalu yakin, apalagi sikap Agnes yang terlalu judes! Nirwan dan Aris kedatangan Rico, teman sesama penyukai biliard. Gaya Rico sama dengan Aris. Bedanya, dia kuliah falkutas arsitek!
“Kalian berdua kayaknya betean deh. Terutama kamu, Nir… wah…” Jekakan Rico dan gelengan kepala dilakukannya secara bersamaan. “Permainanmu tadi, gak bagus! Lagi ada apa sih?” Aris yang sudah duduk di sofa bulat, menepuk pundak Nirwan, dengan senyum jahilnya. “Ini nih… Nirwan mau deketin cewek. Masalahnya… ini cewek jutek!” Suara lagu hip hop cukup mengharuskan mereka untuk sedikit berteriak. Rico mulanya menahan ketawa. Tanpa bersalah, tawanya meledak. “Astaga, Nir! Kamu mau PDKT sama cewek jutek?! Gak salah nih?!” Wajah Nirwan tambah cemberut, sambil minum coca cola floatnya.
“Asal kau tahu, mending gitu… daripada dicap sebagai playboy. Dari puluhan cewek kamu tembak, gak ada yang mau!” Nirwan balas ejekan Rico dan efeknya seratus persen. Wajahnya menciut! “Jangan bawa-bawa statusku dong! Pak, botol bir!” Om yang mengira disuruh, langsung jalan cepat untuk kabur. Semua pelayan tahu gimana jadinya kalau Rico dilayani sama bir. Bakal kacau tuh tempat malam! Rico kembali ke persoalan Nirwan. “Nir… cewek jutek itu gak bisa ditaklukin. Rayuan Aris gak mempan, apalagi aku.” Aris ngangguk, teringat kejadian kemarin. “Benar, Nir. Cari yang lain deh!” Nirwan tidak bisa lebih dari ini untuk dengar desakan dari dua temannya dan berdiri. “Kalian itu gak ada gunanya! Aku pulang!” Aris dan Rico hanya ngangga melihat kepergian Nirwan.
***
Hari menjelang tengah malam, namun tidak ada kantuk untuk Nirwan malam ini. Dia mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi, menuju rumah. Kenapa sih tidak ada yang percaya atau dukung pengakuan bahwa dirinya suka sama cewek jutek? Apa benar kata mereka, tidak ada sisi baik dari cewek ini? Gimana dengan ketulusan Agnes untuk pinjam kuasnya di tempo hari? Lamunannya terhenti saat dia melihat sosok cewek yang tengah muntah-muntah di pinggir jalan. Itu kan Agnes! Kenapa dia masih keluyuran pada jam segini?! Tanpa ragu, mobilnya diparkirkan di pinggir dan Nirwan keluar dengan wajah cemas.
“Agnes?” Keraguan Nirwan mengenal wajah cewek ini lenyap begitu wajah dirinya dilirik secara tajam. “Nirwan? Kamu…” Nirwan memperhatikan gerak-gerik badan Agnes yang sedikit bergetar. Astaga… jangan-jangan… “Kamu mabuk ya? Wajahmu pucat banget.” Agnes kembali berdiri tegas dari posisi bungkuk untuk muntah. Sorotannya tidak berubah. “Siapa bilang aku mabuk?! Nyasal kamu ya!” Nirwan tidak mau bertengkar saat ini, apalagi rasa kantuk mulai mengenai dirinya. “Ngaku saja, Nes. Aku sudah lihat kamu muntah-muntah. Jelas habis mabuk!” Rasa pusing terasa di kepala Agnes, berdenyut keras. Tanpa ditunggu, badannya lemas sehingga jatuh pingsan.
***
Mata Agnes terbuka perlahan-lahan. Terlihat sebuah atap yang jaraknya terlalu dekat untuk sebuah ruangan. Badannya diselimuti oleh jaket hitam. Pikiran Agnes langsung ke hal negatif-negatif. “Ouch!” Kepalanya kejedot saat mau ambil posisi duduk. Baru sadar dirinya berada di dalam mobil seseorang. Tapi siapa? “Sudah bangun rupanya.” Agnes melotot ke arah seseorang di luar mobil lewat jendela. Nirwan! “Kubilang ngaku saja habis mabuk. Kalau mau, pasti kutawarin anterin kamu pulang.” Agnes buang muka ke arah bangku sebelah begitu Nirwan meliriknya. Nirwan dalam posisi senderan di luar mobil, entah apa yang ia lakukan saat menunggu Agnes tidur.
“Ngapain saja selama kutidur?” Agnes sekilas penasaran yang dilakukan cowok ini selama dirinya pingsan. “Melihat-lihat pemandangan jalan raya.” Dahi Agnes berkerut, jawabannya aneh. Badannya masih terbungkus dengan selimut secara erat. “Bukankah itu sangat membosankan? Kan gak ada yang indah…” Nada Agnes masih tinggi, meski tidak setinggi sebelumnya. “Siapa bilang gak bosan? Aku bosan lihat ini berkali-kali!” Agnes mendirikan badan atas dan melihat Nirwan masih senderan di mobilnya sendiri. “Kalau bosan, kenapa dilihatin?” Mata Agnes terarah ke bawah, kertas HVS, papan jalan dan pensil tergeletak di sebelah Nirwan. Agnes tertarik pada pikiran yang tidak bisa ketebak.
“Kamu habis lukis…” Agnes ingin menebak, tapi kedahuluan oleh Nirwan yang berjalan keluar dari pinggir jalan setelah ambil ketiga kebutuhannya. “Yap. Cukup buat habisin waktu bolong, tapi belum selesai.” Tangan Nirwan menggerakkan salah satu pensil warna dengan cepat. Agnes loncat ke bangku sebelah dan membuka jendela sehingga kepalanya bisa keluar dari mobil. “Kasih lihat dong! Dikit saja!” Nirwan segera mendekap papan jalan ke dadanya, dengan wajah jahil. “Jangan ah! Aku kan malu buat kasih kamu!” Penasaran Agnes tidak bisa dibedung, hanya masang wajah sebel. Nirwan anterin Agnes pulang pada jam… pagi dini. Untung besok kuliahnya siang, puas-puasin tidur!
***
Aris dikabarkan kabur dari rumah, dan minta Nirwan untuk nginap di rumahnya. Nirwan tidak habis pikir masalah yang Aris hadapi dari papa dan mamanya. Pada jam lima sore, Kerjaan Aris hanya ngoceh soal pertengkarannya sama papa soal masa depan. Aris menanggapi itu bukan keinginan, lainkan kegairahan papa untuk mempertahankan kejayaan perusahaannya. Perdebatan mereka berlanjut sampai Aris tidak tahan untuk melihat keserakahan papanya selama ini. Nasib mama Aris? Dia berpihak pada papa, takut suatu saat kalau perusahaan bangkrut karena bukan Aris penerusnya. Bisa ditebak apa yang di pikiran mereka, takut hidup miskin!
Demi menceriakan perasaan Aris, Nirwan cerita kejadian tengah malam. Mulai dari ditemukannya Agnes muntah-muntah di tengah jalan sampai nganterin dia pulang. Nirwan jujur dirinya tidak menyangka cewek sejutek Agnes bisa mabuk-mabukan seperti cewek lagi patah hati. “Heran deh akunya. Kok bisa ya? Agnes yang dikenal sebagai cewek jutek mabuk kayak gitu? Ada yang gak beres…” Wajah Nirwan mulai serius, masuk ke pemikirannya sendiri. Aris memilih untuk keluar kamar dan cari kerjaan rumah temannya ini. Nirwan tersenyum kecil, tidak disangka bisa bicara seperti itu ke Agnes. Walau harus pancing sedikit emosinya, namun semua berjalan mulus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar